Agar aku semakin menghidupi panggilanku secara otentik, serta semakin mampu membawa sukacita pada siapapun sebagai bentuk kesaksian akan perutusan Kristus di dunia.
Dalam surat apostoliknya di tahun Hidup bakti (2014), paus Fransiskus mengajak kita untuk bersukacita dalam hidup panggilan dan pelayanan. Sukacita adalah tanda kehadiran Allah secara nyata. Dalam pedoman pembedaan roh tentang Konsolasi (LR 316, 329-331, 336), St. Ignatius secara jelas mengungkapkan bahwa lewat sukacita itu, kita bisa mengenali Allah sendiri yang sedang bekerja dan menunjukkan kehendak-Nya. Dengan demikian, bagi kita Jesuit, pada setiap hidup perutusan kita yang membawa sukacita, dengan sendirinya kita menghadirkan Kerajaan Allah secara nyata.
Sebagai Jesuit, sukacita dalam panggilan itu menampakkan pula kesungguhan kita mengikuti Yesus di bawah Panji Salib-Nya. Sebab, bagi Ignatius, kesungguhan itu bukan hanya sekedar menaati hukum Tuhan, sebagaimana menjadi standar pada kerendahan hati pertama (LR 165); melainkan sampai juga pada kerelaan dan tentu sukacita dalam memeluk dan “mengenakan pakaian Kristus” (bdk. Konstitusi 101), sebagaimana yang paling sempurna ada dalam kerendahan hati ketiga (LR 167).
Dengan sukacita dalam perutusan, kita memberikan kesaksian secara lebih konkret dalam hidup kita. Tidak saja kesaksian tentang panggilan kita, melainkan juga kesaksian akan hadirnya Gereja di tengah dunia. Kongregasi Jenderal menambahkan, “dengan hidup penuh gembira; gembira dalam pengabdian, yang lebih daripada apapun, akan menarik orang lain untuk mengikuti jejak kita” (KJ 32, dekret 11, no. 11).
Pertanyaan refleksi:
Mat 5, 1-12. Khotbah di bukit: Ucapan Bahagia
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."